Laporan BAB II Kajian Pustaka PTK IPA Program S1 PGSD Tahun 2013

BAB II
KAJIAN PUSTAKA


A.           Kerangka Teori
1.        Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL)
Pendekatan kontekstual atau contextual teaching and learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education, 2001). Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti. Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk menggapainya.
Tugas guru dalam pembelajaran kontekstual adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih berurusan dengan strategi dari pada member informasi. Guru hanya mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu yang baru bagi siswa. Proses belajar mengajar lebih diwarnai student centered daripada teacher centered. Menurut Depdiknas guru harus melaksanakan beberapa hal sebagai berikut :
1)        Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa.
2)        Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama.
3)        Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa yang selanjutnya memilih dan mengkaitkan dengan konsep atau teori yang akan dibahas dalam pembelajaran kontekstual.
4)        Merancang pengajaran dengan mengaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan hidup mereka.
5)        Melaksanakan penilaian terhadap pemahaman siswa, dimana hasilnya nanti dijadikan bahan refleksi terhadap rencana pembelajaran dan pelaksanaannya.
Menurut Depdiknas untuk penerapannya, pendekatan contextual teaching and learning (CTL) memiliki tujuh komponen utama, yaitu konstriktivisme (contructivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modelling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment ). Adapun tujuh komponen tersebut sebagai berikut :
1)        Konstruktivisme ( Contructivism )
       Konstruktivisme merupakan landasan berfikir contextual teaching and learning ( CTL ), yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, mengingat pengetahuan tetapi merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental membangun pengetahuaannya, yang melandasi oleh struktur pengetahuan yang dimilikinya.
2)        Menemukan ( Inquiry )
       Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual karena pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Kegiatan menemukan merupakan sebuah siklus yang terdiri dari observasi, bertanya, mengajukan dugaan (hipotesis ), pengumpulan data, dan penyimpulan.
3)        Bertanya ( Questioning )
       Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari bertanya. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran berbasis kontekstual. Kegiatan bertanya berguna untuk :
a)    Menggali informasi.
b)    Menggali pemahaman siswa.
c)    Membangkitkan respon kepada siswa.
d )   Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa.
e)    Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa.
f)    Memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru.
g)    Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa.
h)    Untuk menyegarkan kembali ingatan siswa.
4)        Masyarakat Belajar ( Learning Community )
       Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dari orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang belum tahu. Masyarakat belajar terjadi apabila ada komunikasi dua arah, dua kelompok, atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar.
5)        Pemodelan ( Modelling )
       Pemodelan pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan siswanya untuk belajar dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa dan juga mendatangkan dari luar.
6)        Refleksi ( Reflection )
       Refleksi merupakan cara berfikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu.
7)        Penilaian Sebenarnya ( Authentic Assesment )
       Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil.

2.        Motivasi
Motivasi adalah daya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan tertentu (Winkel, 1984, dalam Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar).
Nasution (1995:73) mengatakan motivasi adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan motivasi adalah suatu keadaan yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu sehingga tujuannya dapat tercapai.
Menurut Winataputra (2005:2.7) motivasi ada dua macam yaitu, motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsic muncul dari dalam diri siswa. Sedangkan motivasi ekstrinsik berasal dari luar misalnya pujian, nasehat dari guru atau orang tua, bisa juga dari suasana belajar yang menyenangkan.
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa antara lain :
a.          Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar.
b.         Mengoptimalkan unsure-unsur dinamis dalam pembelajaran.
c.          Mengoptimalkan pemanfaatan pengalaman atau kemampuan yang telah dimiliki siswa.
d.         Mengembangkan cita-cita atau aspirasi siswa.

3.        Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pebelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Oleh karena itu pebelajar mempelajari pengetahuan tentang konsep. Maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep. Tujuan pembelajaran merupakan deskripsi tentang perubahan tingkah laku yang diinginkan atau deskripsi produk yang menunjukkan bahwa belajar telah terjadi. ( gerlach dan Ely, 1980 dalam Ani 2007 : 5 - 6).
Hasil belajar menurut Anni (2007: 4) merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pebelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Perolehan aspek–aspek perilaku tergantung pada apa yang dipelajari oleh pebelajar.
Dimyati dan Mudjiono hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Menurut Hamalik, hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan lain sebagainya. www.Indramunawar.blogspot.com
Dari beberapa uraian diatas maka dapat diperoleh suatu kesimpulan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah belajar, yang diwujudkan berupa kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor.



4.        Hakikat IPA
IPA sendiri berasal dari kata sains yang berarti alam. Sains menurut Suyoso (1998:23) merupakan “pengetahuan hasil kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis tiada henti-hentinya serta diperoleh melalui metode tertentu yaitu teratur, sistematis, berobjek, bermetode dan berlaku secara universal”.
Selain itu, Nash 1993 dalam Samatowa (2006: 2) dalam bukunya The Nature of science, menyatakan bahwa IPA itu adalah suatu cara atau metode untuk mengamati alam. Nash juga menjelaskan bahwa cara IPA mengamati dunia ini bersifat analisis, lengkap, cermat, serta menghubungkan antara satu fenomena dengan fenomena yang lain sehingga keseluruhannya membentuk suatu perspektif yang baru tentang obyek yang diamatinya.
IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Powler dalam Samatowa (2006: 2-3), bahwa IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala alam dan kebendaan yang sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasil observasi dan eksperimen.
Dari pengertian-pengertian yang diungkapkan oleh para ahli dapat disimpulkan bahwa IPA adalah ilmu yang mempelajari seluruh alam dan gejala-gejala yang ada didalamnya melalui kegiatan observasi, experiment secara sistematis.
Cain dan Evan ( 1993: 2 ) menjelaskan tentang hakekat sains didekati sebagai suatu kumpulan ilmu pengetahuan atau fakta yang
harus dihafal dan diulang-ulang sampai tes. Pada tahun 1960-an terjadi perkembangan dalam memandang sains. Sains tidak hanya dipandang sebagai produk atau isi melainkan juga dipandang sebagai proses. Sains menjadi sesuatu yang lebih “ hidup”. Pendidik sains mulai menggunakan istilah sciencing untuk memfokuskan pada perubahan ini.

Tahun 1980-an pengajaran sains utamanya menekankan keterkaitan sains dengan kehidupan sehari-hari. Tugas yang penting bagi guru IPA adalah mempersiapkan siswa untuk kehidupan pada dunia teknologi yang terus menigkat yang mereka hadapi sekarang dan pada abad 21 ini. Selanjutnya cukup penting untuk mempersiapkan pengajaran sains yang sesuai dengan hakekat sains. What is science? What is science do I teach? These are questions that onemust ask in order to become aware of following component of science: (1) content or product, (2) processor methods, (3) attitude, (4) technology. Mengajarkan sains yang benar harus mencakup ke empat komponen tersebut. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut ( Cain dan Evan, 1993 : 4)
a)      Sains sebagai produk
Sains sebagai produk ini mencakup fakta, konsep, prinsip, hokum dan teori. Pada tingkat dasar sains dibedakan menjadi 3 yaitu sains kehidupan (biologi), fisik dan Ilmu bumi.
b)      Sains sebagai proses
Sains sebagai proses disini tidak dipandang sebagai kata benda, kumpulan pengetahuan atau fakta untuk dihafalkan melainkan sebagai kata kerja, bertindak, melakukan, meneliti, yaitu sains dipandang sebagi alat untuk mencapai sesuatu. Bagaimana anak memperoleh informasi ilmiah itu lebih penting daripada sekedar keterlibatan mereka menghafal isi sains. Mereka membutuhkan pengalaman yang meliputi mengumpulkan data, menganalisa dan mengevaluasi isi sains. Pendekatan sains ini mengubah peranan tradisional baik guru maupun siswa. Pendekatan sains menuntut partisipasi aktif siswa dan guru yang berfungsi sebagai pembimbing atau narasumber. Pendekatan ini memacu pada pertumbuhan dan perkembangan pada semua area pembelajaran, tidak hanya dalam penghafalan fakta.
Pendekatan pendidikan sains yang baik seharusnya termasuk mengembangkan keterampilan proses penelitian, yang meliputi keterampilan proses IPA dasar dan keterampilan IPA terpadu. Ketrampilan proses IPA dasar terdiri dari pengamatan, klasifikasi, pengukuran, penggunaan hubungan ruang/waktu, komunikasi, prediksi dan inferensi. Selanjutnya proses yang lebih kompleks (keterampilan proses terpadu) terdiri dari pendefinisian variable secara operasional, perumusan hipotesis, penginterprestasian data, pengontrolan variabel dan eksperimen.
Keterampilan proses penelitian merupakan dasar dari semua pembelajaran. Keterampilan tersebut tidak terpisah dari isi sains, melainkan merupakan alat penelitian ilmiah. Penggunaan keterampilan tersebut dalam mengumpulkan, mengorganisasikan, menganalisa dan mengevaluasi isi sains merupakan tujuan bersains
c)      Sains sebagai sikap
Guru pada tingkat sekolah dasar harus memotivasi anak didiknya untuk mengembangkan pentingnya mencari jawaban dan penjelasan rasional tentang fenomena alam  dan fisik. Sebagai guru hendaknya memanfaatkan keingintahuan anak dan mengembangkan sikap tersebut untuk penemuan. Memfokuskan pada pencarian jati diri anak mengapa dan bagaiman fenomena itu terjadi.
d)     Sains sebagai teknologi
Perkemabangan teknologi yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dari belajar sains. Penerapan sains dalam penyelesaian masalah dunia nyata tercantum pada kurikulum KTSP. Pada kurikulum tersebut siswa terlibat dalam mengidentifikasi masalah dunia  nyata dan merumuskan alternatif penyelesaiannya dengan menggunakan teknologi. Pengalaman ini membentuk suatu pemahaman peranan sains dalam perkembangan teknologi. Sains bersifat praktis  sebagai bekal yang berguna dalam kehidupan  sehari-hari dan juga dalam memahami dampak sains serta teknologi pada masyarakat.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sains terdapat empat komponen yaitu 1) sains sebagai produk bahwa sains mencakup fakta, konsep, hukum, dan teori yang dapat dipelajari. 2) sains sebagai proses bahwa dalam pembelajaran siswa tidak hanya menghafal konsep yang ada tetapi melakukan sesuatu untuk memperoleh pengetahuannya itu. 3) sains sebagai sikap ilmiah bahwa dalam pembelajaran sains berorientasi untuk menumbuhkan sikap positif terhadap lingkungan dan mencoba menjelaskan fenomena yang terjadi di lingkungan secara rasional. 4) sains sebagai teknologi bahwa dalam pembelajaran sains diharapkan siswa mampu menerapkan pengetahuannya untuk memecahkan masalah di lingkungan dengan memanfaatkan teknologi. Sebagai seorang pengajar hendaknya menekankan empat komponen tersebut dalam pembelajaran IPA di kelasnya.

5.        Ekosistem
Secara sederhana ekosistem dapat diartikan sebagai tempat tinggal makhluk hidup. Ekosistem berhubungan erat dengan populasi serta spesies yang saling berhubungan di dalamnya. Ekosistem merupakan sebuah system ekologi yang terbentuk sebagai akibat dari hubungan timbale balik antara makhluk hidup (biotik) dengan makhluk tak hidup (abiotik). Berikut beberapa pengertian dari definisi ekositem.
a.       Hartono
Ekosistem adalah hubungan antara seluruh makhluk hidup dengan benda tak hidup di suatu daerah  tertentu.
b.      Susilowarno
Ekosistem adalah interaksi atau hubungan timbale balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem merupakan suatu bentuk komunitas dalam suatu areal tertentu dapat berupa daratan atau air.
c.       Haryati, dkk
Ekosistem adalah kesatuan lingkungan hidup yang tercipta karena adanya interaksi antara unsur biotik dan abiotik.
d.      Setyaningtyas
Ekosistem adalah tempat berlangsungnya hubungan ketergantungan antara makhluk yang satu dengan yang lain dalam suatu tempat.
e.       UU No 23 Tahun 1997
Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam bentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.

6.        Keseimbangan Ekosistem
Keseimbangan menggambarkan keadaan dinamika system yang tidak mengalami gejolak atau stabil (Tarumingkeng, PhD). Ekosistem dikatakan seimbang juga apabila suatu ekosistem masih alami dan belum terganggu (homeostatis) yaitu ekosistem yang mampu menahan berbagai perubahan dalam system secara keseluruhan. Sehingga Keseimbangan ekosistem merupakan keadaan dimana semua komponen baik biotik maupun abiotik berada pada posisi yang seharusnya baik jumlah maupun peranannya dalam lingkungan.

B.            Hasil Penelitian Relevan
Penelitian yang relevan untuk mendukung penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh Kharisma Lestari dengan judul penerapan pendekatan contextual teaching and learning (CTL) untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Umbulan Winongan Pasuruan yang dilakukan pada tahun 2009. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pendekatan contextual teaching and learning (CTL) pada pembelajaran IPA untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Umbulan Winingan Pasuruan. Ternyata, penelitian ini telah berhasil meningkatkan kualitas pembelajaran IPA dengan indikasi bahwa hasil belajar IPA meningkat dibandingkan dengan pembelajaran secara konvensional. Hal ini ditunjukkan dengan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada pra tindakan (57,3), siklus I (67,4), siklus II  (85, 3).
Penelitian dengan pendekatan yang sama juga dilakukan oleh Rochmat Zaenuri Noor dengan judul “Penerapan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran IPA tentang Konduktor dan Isolator Panas pada Siswa Kelas VI SDN Margorejo 2”. Penerapan pendekatan kontekstual (CTL) tersebut menunjukkan perubahan kualitas Pembelajaran IPA yang mengalami peningkatan yang cukup baik pada siklus I dan siklus II, bila dibandingkan dengan pembelajaran sebelumnya yang hanya menggunakan metode ceramah. Hal ini dapat kita lihat pada nilai rata-rata hasil belajar siswa pada pra tindakan (55,4), siklus I (70,8), siklus II  (86, 7)
Mengacu pada kedua hasil penelitian di atas, maka relevan sekali terhadap penelitian yang peneliti lakukan yaitu dengan judul “Penerapan Pendekatan Kontekstual untuk Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar IPA tentang Keseimbangan Ekosistem bagi Siswa Kelas VI SDN 1 Karangsari.”












C.           Kerangka Berpikir
 























Gambar 2.1. Kerangka Berpikir Penelitian Tindakan Kelas
Berdasarkan kerangka berpikir di atas dapat dilihat bahwa pada kondisi awal, peneliti dalam pembelajaran belum menggunakan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran sehingga siswa kurang termotivasi untuk mengikuti pembelajaran dan hasil belajar siswa pun belum maksimal atau sesuai dengan harapan.
Pada siklus I peneliti dalam pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual, mengadakan diskusi kelompok yang terdiri dari 6/7 siswa. Dari kegiatan pada siklus I setelah diadakan analisis ternyata hasil yang dicapai siswa belum sesuai dengan keinginan atau target yang diharapkan yaitu ketuntasan klasikal 75 % dari jumlah seluruh siswa, dan masih ada beberapa siswa yang kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran sehingga dilaksanakan siklus II.
Pada siklus II peneliti menggunakan pendekatan kontekstual, mengadakan diskusi kelompok dengan anggota yang lebih kecil yaitu 3/4 siswa, mengerjakan lembar kerja siswa, dan menarik kesimpulan dengan bimbingan peneliti.
Dari kegiatan pada siklus II kemudian di analisis ternyata hasil belajar siswa sudah sesuai dengan harapan yaitu mencapai ketuntasan klasikal 75%, serta siswa sudah termotivasi dan menjadi aktif dalam pembelajaran. Dengan demikian, penggunaan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA tentang keseimbangan ekosistem.

D.           Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir seperti uraian di atas, maka hipotesis tindakan yang diajukan adalah :
1.         Penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan motivasi belajar IPA tentang keseimbangan ekosistem bagi siswa kelas VI SD Negeri 1 Karangsari.
2.         Penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar IPA tentang keseimbangan ekosistem bagi siswa kelas VI SD Negeri 1 Karangsari.

E.            Indikator Kinerja dan Kriteria Keberhasilan
1.        Indikator Kinerja
a)    Indikator Kinerja Motivasi
       Indikator yang digunakan untuk mengukur motivasi belajar siswa adalah, jika:
1)        Siswa tekun dalam  mengerjakan tugas.
2)        Siswa aktif dalam proses pembelajaran.
3)        Siswa mempunyai rasa ingin tahu terhadap materi yang disampaikan.
b)     Indikator Kinerja Hasil
Indikator yang digunakan untuk hasil belajar siswa adalah ketuntasan dalam menguasai materi pelajaran. Dengan kriteria siswa tuntas belajar, jika telah mencapai tingkat penguasaan materi minimal 75 %. Indikator keberhasilan yang diharapkan ≥ 75 % dari 27 siswa dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPA tentang keseimbangan ekosistem di atas nilai KKM yaitu 65.

2.        Kriteria Keberhasilan
a)    Kriteria Keberhasilan Motivasi
Kriteria keberhasilan motivasi siswa terhadap pembelajaran secara individu:
1)   Memiliki motivasi tinggi jika siswa memenuhi tiga indikator.
2)   Memiliki motivasi cukup jika siswa memenuhi dua indikator.
3)   Memiliki motivasi kurang jika siswa memenuhi satu indikator.
Kriteria keberhasilan motivasi siswa terhadap pembelajaran secara klasikal jika 75 % siswa memenuhi tiga indikator.

b)   Kriteria Keberhasilan Hasil Belajar

Kriteria keberhasilan hasil belajar siswa terhadap pembelajaran secara individu, apabila siswa telah mencapai nilai KKM yaitu 65, dan secara klasikal apabila ≥ 75 % siswa telah mencapai KKM.

0 Response to "Laporan BAB II Kajian Pustaka PTK IPA Program S1 PGSD Tahun 2013"

Post a Comment